Template by:
Free Blog Templates

Selasa, 05 Februari 2013

PKN

Dampak Globalisasi


Dalam proses globalisasi tidak terlepas dari suatu perubahan, yaitu perubahan yang terjadi dalam berbagai aspek 

kehidupan manusia. Apabila kebudayaan secara umum merupakan suatu rangkaian kepercayaan, nilai-nilai, dan 

gaya hidup dari suatu masyarakat tertentu didalam eksistensi kehidupan sehari-hari, maka dewasa ini didalam 

era globalisasi mulai muncul apa yang disebut kebudayaan global. Kebudayaan global bisa diartikan sebagai 

moderrnitas. Dalam hal ini modernitas mempunyai pengertian masyarakat modern, gaya hidup modern, ekonomi 

modern, budaya modern, dan pendidikan modern.

Proses globalisasi merupakan suatu rangkaian proses yang mengintegrasikan kehidupan global didalam suatu 

ruang dan waktu melalui internasionalisasi perdagangan, internasionalisasi pasar dari produksi dan keuangan, i

nternasionalisasi dari komoditas budaya yang ditopang oleh jaringan system telekomunikasi global yang semakin 

canggih dan cepat. Intinya dari proses globalisasi yaitu terciptanya suatu jaringan kehidupan yang semakin 

terintegrasi.


Kaitan antara globalisasi dan pendidikan menurut Giddens terletak didalam lahirnya suatu 

masyarakat baru yaitu “knowledge-based-society” yang merupakan anak kandung dari 

proses globalisasi.[1] Karena globalisasi, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat yang 

merupakan dasar dari globalisasi ekonomi dan politik di dunia ini. Namun demikian suatu 

“knowledge-based society” yang didasarkan kepada ilmu pengetahuan akan terus-menerus 

berubah dan merupakan subyek untuk revisi. hal ini memerlukan apa yang disebutnya sikap 

refleksif dari manusia yaitu kemampuan untuk merenungkan mengenai kehidupannya 

berdasarkan rasio.

Untuk itu pendidikan sangat penting didalam mewujudkan masyarakat masa depan yang 

berdasarkan ilmu pengetahuan, melalui pendidikan proses transmisi serta pengembangan 

ilmu pengetahuan akan terjadi.

Lahirnya globalisasi , yang kemudian disusul dengan penetrasi teknologi yang sangat 

canggih, menjembatani bangsa-bangsa didunia ini menjadi global village[2]. Globalisasi 

berkembang melintasi batas-batas keelokan. Dalam kondisi seperti ini dunia mengarah pada 

proses integrasi dan homogenisasi budaya. Akan tetapi proses integrasi dan homogenisasi 

ini menimbulkan reaksi yang beragam.

Lahirnya budaya global bukan berarti hilangnya identitas suatu masyarakat, justru 

globalisasi telah merangsang kesadaran individu, kesadaran etnis dari suatu komunitas yang 

pluralistik. Artinya pendidikan nasional kita perlu mempunyai sikap didalam menghadapi 

perubahan-perubahan global dalam era globalisasi dewasa ini.

Kemudian yang menjadi pertanyaan, bagaimana seharusnya kita menghadapi arus 

globalisasi yang mempumyai dua wajah ini? Terlebih ketika dibenturkan dalam dunia 

pendidikan. Seringkali kita menemukan adanya indikasi dari menurunnya nilai dan moral 

anak bangsa diantaranya karena adanya pengaruh globalisasi, namun disisi lain adanya 

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga pengaruh dari arus globalisasi, sehingga 

menjadikan dunia ini serasa tidak lagi bulat melainkan rata.

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak 

mengenalbatas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang 

dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai 

pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa 

di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Globalisasi sering diterjemahkan “mendunia” atau 

“mensejagat”, yaitu dengan cepat menyebar keseluruh plosok dunia, baik berupa ide, 

gagasan, data, informasi, dan sebagainya begitu disampaikan saat itu pula diketahui oleh 

semua orang diseluruh dunia. Globalisasi selain menghadirkan ruang positif namun juga 

terdapat sisi negativenya. Globalisasi adalah merupakan sebuah tantangan yang harus 

dihadapi dan dikontekskan pada keadaan yang ada pada masa kini.


Pengaruh globalisasi mempunyai implikasi atau bahkan dampak atas berbagai Negara atau 

bangsa, tampaknya didasarkan pada dua asumsi. Pertama, sekurang-kurangnya sampai 

taraf tertentu, pelaku atau subjek globalisasi adalah Negara-negara industri maju. Dengan 

kata lain, globalisasi sampai taraf tertentu merupakan kepanjangan tangan (extension) 

kepentingan Negara industri maju. Kedua, kekhawatiran, kecemasan, atau bahkan ketakutan 

akan pengaruh atau dampak terutama yang bersifat negative dari globalisasi umumnya 

dirasakan terutama oleh bangsa-bangsa dalam Negara berkembang, yang lebih merupakan 

objek daripada subjek globalisasi. Meskipun demikian, baik karena ketergantungan Negara 

berkembang pada Negara-negara maju dalam berbagai bidang, keuangan, ekonomi, 

maupun teknologi, ataupun keinginan untuk mengejar kemajuan, sadar atau tidak, mau 

atau tidak, Negara-negara berkembang sebenarnya juga mendukung proses globalisasi itu. 

Dalam pengertian ini, Negara-negara berkembang juga merupakan subjek atau pelaku 

globalisasi walaupun lebih pasif sifatnya.[1]



Dari globalisasi tersebut maka akan berpengaruh, implikasi ataupun dampaknya, khususnya 

terhadap Negara-negara berkembang seperti Indonesia, terutama dalam ranah pendidikan, 

nilai-nilai moral, sosial, politik budaya dan kemanusiaan, baik yang bersifat positif maupun 

negative akan sangat besar efek yang ditimbulkan. Ini semua merupakan tantangan 

khususnya bagi generasi muda sebagai penerus bangsa, bagaimana mengemas globalisasi 

ini sebaik mungkin mengambil nilai positifnya dan menghindari sisi negatifnya.

Hal itu juga berimbas pada perkembangan dunia pendidikan di Indonesia yang tidak dapat 

dilepaskan dari pengaruh perkembangan arus globalisasi, dimana ilmu pengetahuan dan 

teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia 

pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik 

dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan 

pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun 

non-akademik, dan memperbaiki menejemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien 

serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

Ketidaksiapan bangsa Indonesia dalam mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang 

dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi, menimbulkan dampak 

negative yang tidak sedikit jumlahnya bagi masyarakat, paling tidak ada tiga dampak 

negative yang akan terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia, yaitu:


Pertama, dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dan komersil seiring dengan 

kuatnya hembusan paham neoliberalisme yang melanda dunia. Paradigma dalam dunia 

komersil adalah usaha mencari pasar baru dan memperluas bentuk-bentuk usaha secara 

terus menerus. Globalisasi mampu memaksa liberalisasi berbagai sektor yang dulunya non-

komersial menjadi komoditas dalam pasar yang baru. Tidak heran apabila sekolah masih 

membebani orang tua murid dengan sejumlah anggaran berlabel uang komite atau uang 

sumbangan pembangunan institusi meskipun pemerintah sudah menyediakan dan Bantuan 

Operasional Sekolah (BOS).


Kedua, mulai melemahnya kekuatan kontrol pendidikan oleh Negara. Tuntutan untuk 

berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti International Monetary Fund (IMF) dan 

World Bank, mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus 

berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telah 

diamandemenkan, UU Sisdiknas, dan PP no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional 

Pendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikan dari corak 

sentralistis menjadi disentralistis.

Ketiga, globalisasi akan mendorong delokasi dan perubahan teknologi dan orientasi 

pendidikan. Pemanfaatan teknologi baru, seperti komputer dan internet, telah membawa 

perubahan yang sangat revolusioner dalam dunia pendidikan yang tradisional. Pemanfaatan 

multimedia yang portable dan menarik sudah menjadi pemandangan yang biasa dalam 

praktik pembelajaran didunia sekolah Indonesia. Disinilah bahwa pendidikan menjadi 

agenda prioritas kebangsaan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi untuk dilakukan seoptimal 

mungkin.

Selain dampak negative, pengaruh globalisasi juga membawa dampak yang positif. 

Sebagian pakar telah melihat betapa besar impact/ imbas yang disebabkan oleh pengaruh 

global ini sebagai suatu global revolution. Globalisasi telah menimbulkan gaya hidup baru 

yang tampak dengan jelas dalam mempengaruhi kehidupan. Ada berbagai dampak yang 

ditimbulkan oleh globalisasi terhadap dunia pendidikan, yaitu:

1. Dampak Positif globalisasi Pendidikan

a. Akan semakin mudahnya akses informasi.

b. Globalisasi dalam pendidikan akan menciptakan manusia yang professional dan 

berstandar internasional dalam bidang pendidikan.

c. Globalisasi akan membawa dunia pendidikan Indonesiabisa bersaing dengan Negara-

negarara lain.

d. Globalisasi akan menciptakan tenaga kerja yang berkualitas dan mampu bersaing

e. Adanya perubahan struktur dan system pendidikan yang meningkatkan tujuan untuk 

meningkatkan mutu pendidikan

2. Dampak negative globalisasi dalam pendidikan

Globalisasi pendidikan tidak selamanya membawa dampak positive bagi dunia pendidikan, 

melainkan globalisasi memiliki dampak negative yang perlu di antisipasi, dampaknya antara 

lain:

a. Dunia pendidikan Indonesia bisa dikuasai oleh para pemilik modal.

b. Dunia pendidikan akan sangat tergantung pada teknologi, yang berdampak munculnya 

“tradisi serba instant”.

c. Globalisasi akan melahirkan suatu golongan-golongan di dalam dunia pendidikan.

d. Akan semakin terkikisnya kebudayaan bangsa akibat masuknya budaya dari luar.[2]

Globalisasi dunia pendidikan mampu memaksa liberalisasi berbagai sektor, mengakibatkan 

melonggarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh Negara karena mengacu ke Standar 

Internasional, yang mana bahasa Inggris menjadi sangat penting sebagai bahasa 

komunikasi, agar dapat bersaing di era globalisasi saat ini.

Globalisasi telah menciptakan dunia yang semakin terbuka dan saling ketergantungan 

antarnegara dan antarbangsa. Negara atau bangsa dunia kini bukan saja saling terbuka 

terhadap satu sama lain, tetapi juga saling ketergantungan satu sama lain dan itu bersifat 

asimetris, artinya satu Negara lebih tergantung pada Negara lain daripada sebaliknya. 

Karena saling ketergantungan dan saling keterbukaan ini, semua Negara pada prinsipnya 

akan terbuka terhadap pengaruh globalisasi. Dan efek yang ditimbulkan adalah akan 

masuknya secara bebas nilai-nilai moral, sosial budaya, dan sebagainya yang akan 

berdampak pada ranah pendidikan yang cenderung akan banyaknya nilai-nilai negative yang 

masuk tanpa adanya penyaringan.


1. Responsifitas dalam Menghadapi Globalisasi Pendidikan

Setelah mengkaji globalisasi pendidikan terutama problematika dan pengaruh atau dampak 

yang ditimbulkannya, dalam hal ini berkaitan tentang ranah pendidikan, kita tidak akan 

mungkin terlepas dari elemen-elemen yang sangat berpengaruh didalamnya dan saling 

berkaitan satu sama lainnya. Yaitu, pendidik (guru), peserta didik (siswa), orang tua ( 

keluarga), dan lingkungan.

Telah kita ketahui bersama bahwa globalisasi bisa berdampak positif dalam melakukan 

perubahan yang lebih baik, namun disisi lain mempunyai dampak negatif yang dapat 

menjadi boomerang bagi dunia pendidikan khususnya di Indonesia. Hal itu semua akan 

tergantung bagaimana elemen-elemen yang sangat berpengaruh dalam pendidikan mampu 

bersikap responsive dalam menghadapi arus globalisasi yang tidak bisa kita hindari, artinya 

dalam menghadapi arus globalisasi ini kita tidak akan pernah menemukan suatu 

penyelesaian dengan cara menghindari dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh semua elemen diatas tadi dalam 

menghadapi arus globlisasi dalam dunia pendidikan.

1. Pendidik (Guru)

Menurut undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah ditegaskan 

bahwa yang dimaksud Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, 

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik 

dijalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Disamping itu, di era global saat ini dituntut adanya fungsi dari keberadaan guru sebagai 

tenaga professional, yang mampu meningkatkan martabat serta mampu melaksanakan 

system pendidikan nasional dan mewujudkan pendidikn nasional, yaitu berkembangnya 

potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa.

Maka dari itu, masalah guru merupakan topik yang tidak pernah habis dibahas dan selalu 

aktual seiring dengan perubahan zaman dan pengaruh globalisasi dalam pendidikan, karena 

permasalahan guru sendiri dan dunia pendiidkan yang menyangkutnya selalu 

diperbincangkan. Pada dasarnya persoalan etika dan moral anak bangsa, bukan hanya 

permasalahan guru namun jika yang dituju adalah moral peserta didik (siswa), maka tidak 

ada alasan untuk guru dilibatkan. Guru sebagai pengajar dan pendidik, memang tidak 

hanya harus membina para murid segi kognitif dan psikomotoriknya demi peningkatan nilai 

angka. Akan tetapi, seorang guru sangat dituntut agar apa yang ia kerjakan dipraktekan 

oleh para muridnya dalam kehidupan.

Guru adalah orang yang bertanggung jawab atas peningkatan moral pelajar dan juga 

kemerosotannya. Untuk itu tugas guru tidak terbatas pada pengajaran mata pelajaran, tapi 

yang paling penting adalah pencetakan karakter murid. Tantangan persoalan ini memang 

sangat sulit bagi seorang guru karena keterbatasan kontrolling pada murid kerap 

membuatnya kecolongan.

Disamping itu, dalam menghadapi era globalisasi guru dituntut meningkatkan 

profesionalitasnya sebagai pengajar dan pendidik. Guru juga harus siap menghadapi kata 

kunci dunia pendidikan, seperti: kompetisi, transparansi, efisiensi, dan kualitas tinggi. 

Dengan demikian kualitas mutu pendidikan harus sangat diperhatikan oleh para guru untuk 

menyelamatkan profesinya.[3]

Untuk itu dalam peningkatan kualitas pengajaran, guru harus bisa mengembangun tiga 

intelegensi dasar siswa. Yaitu: intelektual, emosional, dan moral. Tiga unsur itu harus 

ditanamkan pada diri murid sekuat-kuatnya agar terpatri dalam dirinya. Kemudian system 

pembelajaran yang kreatif dan inovatif juga menjadi penting bagi guru, sehingga dapat 

megembangkan seluruh potensi diri siswa, dan memunculkan keinginan bagi siswa untuk 

maju yang diikuti ketertarikan untuk menemukan hal-hal baru pada bidang yang diminati 

melalui belajr mandiri (self study) yang kuat. Dengan perkembangan bidang teknologi 

informasi semakin mendorong dalam kemajuan bidang ilmu pengetahuan, sehingga dunia 

pendidikan harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin.

2. Peserta didik (Siswa)
Selain tugas utama seorang siswa yaitu belajar, seorang siswa juga harus mampu memilah 

dan memilih segala pengaruh yang masuk dalam dirinya, baik itu pengaruh dari teman 

sebayanya, lingkungannya, maupun media masa. Dampak dari pengaruh globalisasi 

terhadap siswa akan sangat mungkin berdampak negativ dan menghancurkan dirinya jika 

tidak segera ditanggulangi.

Baik pengaruh positif maupun negatif dari globalisasi akan sangat terlihat jelas bagi siswa 

dalam perilaku dan tingkah lakunya sehari-hari. Hal itu dikarenakan mereka masih dalam 

masa-masa labil, dan masa-masa dimana selalu ingin mencoba sesuatu hal yang dianggap 

baru. Hal ini yang perlu diperhatikan bagi orang-rang dewasa yang ada disekitarnya.

Akses internet yang terbuka seluas-luasnya akan berdampak buruk bagi siswa jika 

digunakan untuk mengakses video porno, maupun gambar-gambar lainnya yang tidak 

sepantasnya mereka akses. Namun akan sangat baik jika akses interet digunakan oleh 

mereka untuk mencari informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya karena dunia ini 

akan terasa sempit melaui dunia maya.

Dua hal yang saling kontradiktif namun sangat dekat sekali, sehingga tidak jarang yang 

menyalahgunkan dalam pemanfaatan kemajuan teknologi bagi siswa. Maka dari itu tiga 

unsur dasar bagi siswa, yaitu intelektual, emosional, dan moral sangat penting untuk 

mereka miliki.

Intelektual murid harus luas, agar ia bisa menghadapi arus globalisasi dan tidak ketinggalan 

zaman, apalagi sampai terbawa arus. Selain itu, dimensi emosional dan spiritual siswa juga 

harus terdidik dengn baik, agar bisa melahirkan perilaku yang baik dan bisa bertahan 

diantara pengaruh demoralisasi di era globalisasi dengan prinsip spiritualnya.

3. Orang tua (Keluarga)

Orang tua atau keluarga dianggap sebagai pendidikan pertama bagi anak sebelum mereka 

dikenalkan dengan dunia luar. Pengaruh keluarga juga sangat besar dalam pertumbuhan 

seorang anak, karena disamping mempunyai kedekatan secara emosional, mereka juga 

mempunyai tingkat kebersamaan yang lebih karena tinggal dalam satu atap atau satu 

rumah.

Peran orang tua untuk mencari tau segala kegiatan yang dilakukan oleh anak-anaknya 

sangat penting, dimana jika keluarga sedikit mengbaikan itu maka akan berdampak pada 

kepribadian dan perilaku anak-anaknya yang tidak terkontrol. Orang tua terkadang 

memberikan sepenuhnya kepada sekolah dalam mendidik dan mengembangkan potensi 

anak, padahal tidak sampai disitu saja karena kontrol dari sekolah terbatas hanya dalam jam 

pelajaran sekolah.

Mencari tahu segala kegiatan anak tidak harus dengan mengikutinya setiap detik dan setiap 

waktu. Namun bisa dilakukan dengan banyak hal dan cara, seperti dengan memberikan 

perhatian, menanyakan dengan siapa teman bermain, menanyakan keadaan anak kepada 

guru-guru nya di sekolah, dan lain sebagainya. Hal seperti ini sangat mudah dilakukan, 

namun terkadang orang tua sibuk dengan kegiatannya masing-masing bahan tidak mau 

tahu sehingga anak seringkali terabaikan.

4. Lingkungan

Lingkungan tempat tinggal akan berdampak besar pada perilaku dan kepribadian seseorang, 

karena seringkali pengaruh teman sebayanya dapat mengalahkan pengaruh guru maupun 

orang tua.

Gaya hidup lingkungan sekitar juga mampu merusak tatanan yang sudah diajarkan 

disekolah, yaitu yang berkaitan dengan moral seperti tingkah laku dan menghormati orang 

yang lebih tua seringkali diabaikan karena pengaruh kebiasaan orang-orang yang ada 

disekitar kita.

Untuk itu pemilihan lingkungan sangat penting dalam menghadapi arus globalisasi yang 

akan berdampak pada dunia pendidikan. Karena kewajiban kita adalah bagaimana 

berinteraksi dengan nya secara positif. Toh, realitas (globalisasi) ini tidak semuanya buruk, 

dan tidak pula semuanya baik. Karena itu kita harus menyikapinya lewat berbagai bentuk 

artikulasi yang kritis namun proporsional.
Pangkal dari arus globalisasi yaitu berada pada kemajuan teknologi informasi dan 

komunikasi yang mampu membawa kepada perubahan-perubahan dalam bidang 

pendidikan baik perubahan positif maupun perubahan negative.

Maka, Clossing Statement……..

Globalisasi sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang didalamnya terdapat proses 

mempengaruhi dalam segala bidang terutama dalam ranah pendidikan, yang berimbas pada 

nlai-nilai moral, sosial, budaya dan kepribadian yang dapat berdampak positif dan negatif. 

Pendidikan tidak mungkin menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan 

masyarakat global ini. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi 

dalam proses pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih 

komperehensif dan fleksibel. Dan dalam merespon globalisasi, kita hendaknya tidak terjebak 

ke dalam sikap-sikap ekstrem, mendukung dan menerimanya tanpa reserve atau 

menolaknya mentah-mentah. Akan tetapi, hendaknya kita bisa bersikap lebih kritis dan 

kreatif dengan melakukan penelaahan terhadap setiap sisi dari globalisasi.

Dalam konteks Global, UU nomor 17 tahun 2007 merumuskan misi agar Indonesia ikut 

berperan penting dalam pergaulan dunia Internasional. Misi ini tidak mungkin bisa dicapai 

tanpa adanya sensitifitas global yang dimiliki oleh Warga Negara Indonesia. Karena itu 

melalui pendidikan lah yang mampu menumbuhkan sensitifitas atau kesadaran global ini. 

Bukan malah menjadikan arus globalisasi yang menggrogoti pendidikan di Indonesia.

Pembentukan karakter bangsa yang memiliki kepedulian terhadap dunia global menjadi 

cukup penting. Melalui karakter ini generasi muda diharapkan mampu mengikuti 

perkembangan dunia global secara kritis. Tidak semata-mata larut dalam berbagai 

perubahan dan perkembangan yang terjadi. Apalagi sampai ikut sebagai pelaku berbagai 

kejahatan Internasional. Sebaliknya yang diharapkan adalah generasi yang mampu 

memberikan solusi bagi masa depan dunia yang lebih adil dan damai.

Seorang pendidik/ guru memiliki tanggung jawab dan peran penting dalam menghadapi 

tantangan masyarakat global di era globalisasi ini. Guru sangat dituntut untuk tetap eksis 

dan meningkatkan profesionalitasnya sebagai pengajar dan pendidik yang menjadi penentu 

arah generasi penerus bangsa.

saya dapat dari :sini

tentang Tik:
Menurut saya karena sekarang adalah era globalisasi akan tetapi pelajaran Tik di hilangkan maka akan semakin banyak anak muda jaman sekarang yang semakin tidak tahu apa itu internet (GAPTEK).
dan anak bangsa akan semakin ketinggalan dengan berita-berita terkini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
animasi  bergerak gif
My Widget